Minggu, 13 Desember 2015

Perih Ini Hanya Sekejab Saja

Diposting oleh annhee pitunggal di 22.40 0 komentar
Pelajaran hari ini:
Saat aku sedang mencuci peralatan makan, tiba-tiba gelas yang sedang kusabun pecah. Tak ayal, tanganku pun tergores cukup dalamd dengan panjang sobekan sekitar 2 cm. Perih, tentu saja. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus berhenti? Jika aku berhenti lalu bagaimana dengan jumlah perkakas kotor yang masih sangat banyak ini?
Menyadari bahwa aku baru saja memulai pekerjaanku membersihkan perkakas dari kotoran, maka ku abaikan sejenak perih dilukaku. Darah masih terus mengalir, bahkan menyatu dengan busa sabun cuci, membentuk gelembung kecil berwarna merah. Namun, jika aku berhenti siapa yang akan bertanggung jawab dengan perkakas ini, dan tentunya aku akan dimarahi orang tuaku karena tidak menyelesaikan tugasku dengan baik.

Mimpi bergelar hafidzoh

Diposting oleh annhee pitunggal di 22.40 0 komentar

“Orang-orang seperti kita ini akan mati jika tak punya mimpi” begitu kata fenomenal yang diucapkan Arai dalam serial Sang Pemimpi. Begitu fenomenalnya power sebuah mimpi. Dan mereka pun terlontar menuju dunia yang mereka mimpikan. Bukan sekedar ilusi, Paris yang jauhnya tak berbilang meter pun berhasil ditapaki.
“Secuil mimpi yang kau genggam erat akan mampu meruntuhkan dinding-dinding penghalang yang tebal menghadangmu.” Itulah kalimat ajaib pertama yang dikenang Elsa. Saat itu ia masih duduk dibangku kelas tiga Sekolah Dasar Negeri 2 Buja. Pulang sekolah, hari itu ia tidak menyambangi tempat mangkal ayahnya yang seorang penjual bakso keliling di depan gereja Katolik Santa Maria.

Kasih Seorang Ayah

Diposting oleh annhee pitunggal di 22.39 0 komentar
Hari ini aku benar-benar merasa telah menjadi seorang ayah. Putri sulungku satu-satunya telah memasuki usia sekolah dan hari ini adalah hari pertama ia memasuki pendidikan anak usia dini. Sudah lama kami mendambakan seorang anak. Kami baru memiliki anak tiga tahun kemudian sejak pernikahan kami 6 tahun lalu.
Putriku telah siap dengan seragam ungu yang dikenakannya. Rambut yang diikat dua dengan hiasan kecil diatasnya membuatnya semakin cantik. Aku sendiri sudah rapi dengan setelan celana pastel dan kemeja ungu peninggalan masa lajangku dulu. Aku kemudian mendudukkannya diboncengan belakang motor bututku.

Indonesia menuju miskin

Diposting oleh annhee pitunggal di 22.38 0 komentar
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar didunia. Letaknya yang berbatasan dengan perairan samudra pasifik mengakibatkan Indonesia memiliki siklus iklim yang mendukung untuk tumbuhnya ragam kekayaan, baik hayati maupun hewani, bahari maupun daratan. tak terbilang jumlahnya ragam pesona alam Indonesia.
Sayang beribu sayang, negeri yang kata orang gemah ripah loh jinawi  ini secara teratur tengah bergerak menuju liang lahatnya sendiri. Kekayaan yang dikandung darat, udara, dan airnya telah menjadikan masyarakat Indonesia ter-nina bobo-kan berkepanjangan. Dengan modal gemah ripah loh jinawi-nya bangsa Indonesia membuka pasar bagi dunia lebar-lebar, karena yakin kekayaan Indonesia tak akan pernah habis meski digali berabad-abad.
Lampu hijau dari Indonesia tersebut disambut baik oleh negara-negara asing yang ‘cukup pintar’ bermain monopoli.   Segera, dan tak menunggu lama ratusan mesin dikerahkan mengorek kandungan alam Indonesia yang bahkan terhampar dipermukaan tanah.  Lalu siapa yang diuntungkan? Rakyat Indonesiakah? Tentu BUKAN!!!

Haluan Musi

Diposting oleh annhee pitunggal di 22.28 0 komentar

TAHUN KELIMA. Aku datang lagi kawan. Untukmu, ya, untukmu.Untuk janji lima tahun lalu yang kita semai bersama di haluan Musi ini. Taksedetik pun aku lupa. Tidak walau sekejap. Dan menungguimu disini, kau tau, akuseperti anak kecil yang menunggui mainannya yang hanyut untuk kembali.

Am, kau pasti senang dengan berita ini. Kau tau, taman kecildidepan Kuto Besak yang dulu gersang itu, sekarang sudah ditumbuhi bebungaan.Ada bunga kertas, tapak dara, lidah buaya, melati, dan bebungaan lain yang takdapat ku eja satu per satu namanya. Dan kau tau, sebagian yang tumbuh disanaadalah bibit yang kita tanam dua dalam setahun, lahirmu dan lahirku. Kau selalubilang padaku, bahwa dengan ini kitaakan terus hidup meski kita telah mati. Kausenang bukan?
Kau pasti senang  jikakau tau, sekarang aku tak takut lagi dengan air musi ini am. Benar-benarmenggemberikan bukan? Kini aku tak perlu lagi bergelantung dilenganmu setiapmelintasi ampera yang kata orang gagah ini. Aku tak akan berteriak lagi setiapperahu yang kita tumpangi bergoyang kekanan-kekiri. Tak ada yang kutakuti lagiam. Segala tentang musi ini tak ada yang kutakuti.

Lelaki Penyayang Itu

Diposting oleh annhee pitunggal di 22.26 0 komentar
“Astaga!” seruan yang cukup mengejutkan Deva. “Kau menghela napas untuk yang ke sepuluh kalinya, bahkan untuk waktu kurang dari lima menit. Apa masalah hidupmu begitu serius?”
“Kau ini konselor apa psikiater sih. Jangan-jangan kau juga membubuhkan dibuku catatanmu berapa kali aku berkedip dalam semenit.” Dengus Deva kesal.
“Hey, kau perlu tau sobat. Aku belajar lebih dari sekedar menjadi konselor. Aku juga mempelajari bagaimana menjadi seorang pengacara, psikiater, guru, public speaker, entrepreneur, dan tak lupa tentu aku mempelajari ilmu botani sangat dalam. Aku mempelajari semua Dev, semua yang dibutuhkan untuk menghasilkan uang dan kesenangan. Aku bahkan mungkin lebih dalam mempelajarinya dari mereka yang sekedar iseng mencari titel diujung namanya.”

Senin, 07 Desember 2015

Risauku

Diposting oleh annhee pitunggal di 02.37 0 komentar
Malam bernajak senyap
Tapi tetep tak bisa ku simpan risauku dalam lelap
Aku ingin mengubur setiap asa yang kupunya
Ingin ku buang dan ku lempar jauh2 semua letih
Tapi aku hanya kumpulan daging dan tulang tanpa daya tanpa kuasa
Yang melekat hanya segengam hati yang dipaksa mati, dan seiris jiwa yang tak lagi punya nyawa
Entah akan kemana kubawa setiap derita, Mungkin ke sebuah jalan tanpa ujung, atau kedalam jurang tanpa dasar.
Kemana?
Kemana lagi harus ku lerai kecamuk batin yang membadai?
Sedang  batinku rusuh, tak punya tempat untuk berlabuh
 

Anik Winarsih Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea